RUANG HAMPA
Masih dengan
meja dan kursi yang sama, masih dengan ruangan yang sama dan di Kantor yang
sama pula Aku mengabdi.
Aku kembali
ke rutinitasku sebagai seorang Karyawati di sebuah Kantor Notaris. Kadang lelah
hati ini dengan peraturan-peraturan yang ada, kadang dibuat jengkel dengan
tumpukan berkas yang menggunung di meja kerja, kadang dibikin panik oleh berkas
yang tiba-tiba menghilang disaat sedang dibutuhkan, namun senyum dan bersyukur
adalah penawar semuanya.
![]() |
| Meja yang sering bikin galau ya ini... |
Aku merasa
ada yang berbeda di ruangan ini, berbeda bukan karena ada hiasan atau perabot
Kantor yang baru saja Kantor pesan. Aku merasa ada seberkas kehampaan diruangan
ini, ruangan yang tadinya sesak dengan gelak tawa dan candaan darinya kini
perlahan mulai sirna. Entah apa penyebabnya yang jelas ini semua berhasil
mengubah segalanya, berhasil mengubah interaksi dan komunikasi menjadi kaku,
canggung, bingung, dan linglung.
Kadang tanpa
Aku sadari Aku merindukan candaan dan godaan sinis darinya, dia yang sering
menjailiku, sesekali dia bisa memudarkan rasa panik menjadi asyik, dia yang
sering mencarikan solusi jikalau ada sesuatu yang menghambat pekerjaanku, tapi
kini tak ada lagi kepeduliannya yang nampak. Kini Aku bagaikan di tempat yang
sangat asing, asing dengan orang-orang disekelilingku, seseorang yang enggan
menyapaku terlebih dahulu sebelum Aku memulainya, jangankan untuk mengobrol,
untuk sekedar say Hello saja mungkin Dia enggan :(
Entah apa
yang terjadi, yang jelas Aku tidak menemukan alasan yang pasti kenapa ini semua
bisa terjadi.
Mungkin
jikalau di 19th Desember tidak terjadi apa-apa, Aku dan dia tidak
akan mengalami moment sekaku ini. Tapi ini sungguh bukan salah dia atau
perasaan yang dia miliki, sebab perasaan tidak untuk disalahkan, tapi untuk di
syukuri karena rasa adalah titipan sang Kuasa, ini mengalir dan berjalan apa
adanya sampai rasa itu terasa. Aku berusaha tidak mengubah secuilpun sikapku
terhadapnya, masih seperti dulu sebelum dia mengutarakan semuanya, bahkan tanpa
dia mintapun Aku akan tetap pada sikapku yang semula, Aku akan tetap aware
dengan sesama, dan berusaha mengingatkan hal-hal buruk yang menimpanya.
Kadang Aku
merasa bersalah dengannya, Aku tidak
peka dengan perasaannya, Aku selalu menganggap hal serius yang Ia lakukan
sebagai candaan belaka, Aku yang pernah meresahkan hatinya, yang pernah
memecahkan titik fokusnya.
Tuhan memang
maha segalanya, Dia pencipta segala rasa, rasa yang tidak pernah salah, pun
dengan perasaan yang Tuhan titipkan kepadanya.


Komentar
Posting Komentar